Hiking atau mendaki gunung memang menjadi salah satu aktivitas yang cocok untuk menyegarkan pikiran. Ketika hiking, kamu bisa melihat pohon-pohon rindang dibalut dengan udara yang sangat sejuk.
Meskipun begitu, kamu harus tetap waspada terhadap bahaya yang mengintai ketika bepergian ke alam bebas, entah dari ancaman binatang buas ataupun cuaca yang ekstrem.
Nah, salah satu bahaya yang harus kamu waspadai ketika hiking adalah hipotermia. Jika hal ini terjadi, kamu harus tahu apa saja penanganan yang tepat agar tidak mengancam keselamatan jiwa.
Lalu, apa itu hipotermia? Apa saja gejala hipotermia? Dan bagaimana cara mencegah agar tidak terjadi hipotermia di gunung?
Tentunya, kamu bisa menemukan jawabannya lewat artikel ini. Pastikan untuk menyimaknya hingga tuntas, ya!
BACA JUGA: Mengenal Olahraga Hiking, Arti dan Alat yang Dibutuhkan
Apa Itu Hipotermia?
Hipotermia adalah suatu kondisi medis darurat di mana suhu tubuh manusia menurun secara drastis hingga berada di bawah batas normal yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi organ.
Lebih lanjut, suhu tubuh normal manusia umumnya berada di kisaran 37 derajat Celsius. Ketika kamu mengalami hipotermia, tubuh akan kehilangan panas lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menghasilkannya, menyebabkan suhu inti tubuh merosot hingga di bawah 35 derajat Celsius.
Kondisi ini sangat berbahaya karena jika suhu tubuh terus menurun, organ-organ vital seperti jantung, sistem saraf, dan organ lainnya tidak akan dapat bekerja secara optimal. Tanpa penanganan yang cepat dan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga risiko paling fatal, yaitu kematian.
Mengenali Gejala Hipotermia di Gunung
Ketika berada di alam bebas, perubahan cuaca bisa terjadi dengan sangat cepat, mulai dari hujan lebat hingga hembusan angin kencang yang menusuk tulang. Keadaan ini menjadi pemicu utama terjadinya hipotermia di gunung.
Agar kamu bisa melakukan tindakan pencegahan atau pertolongan pertama secara cepat, kamu wajib mengenali tahapan dan gejala hipotermia berikut ini:
1. Gejala Ringan
Pada tahap awal, tubuh akan berusaha keras untuk menghasilkan panas secara mandiri. Gejala yang paling pertama muncul adalah tubuh yang gemetar secara intens. Selain itu, kamu akan merasakan kulit yang berubah menjadi pucat, dingin saat disentuh, serta mati rasa pada bagian ujung jari tangan dan kaki. Langkah dan gerakan tubuh juga mulai terasa sedikit kaku atau melambat.
2. Gejala Sedang
Jika suhu tubuh terus merosot, respons gemetar intens yang tadinya muncul secara alami justru akan mulai berhenti. Hal ini menandakan energi tubuh sudah mulai terkuras habis.
Kamu akan mulai menunjukkan gejala seperti bicara yang meracau atau tidak jelas, hilangnya koordinasi tubuh (seperti sering tersandung atau sulit menggenggam sesuatu), serta denyut nadi yang melemah. Karakteristik lain yang sering terlihat adalah sikap apatis atau mulai mengantuk.
3. Gejala Berat
Ini adalah fase yang sangat kritis dan membutuhkan pertolongan medis segera. Pada tahap ini, pendaki akan mengalami penurunan kesadaran yang parah atau pingsan.
Napas akan terasa sangat pendek dan dangkal, serta denyut nadi hampir tidak teraba. Pupil mata akan melebar dan otot tubuh menjadi sangat kaku. Dalam beberapa kasus ekstrem, penderita bahkan bisa mengalami fenomena psikologis abnormal di mana mereka merasa kepanasan dan mencoba melepas pakaian mereka (paradoxical undressing).
Cara Mencegah Hipotermia saat Mendaki
Mencegah tentu jauh lebih baik daripada mengobati, terutama ketika kamu sedang berada di tengah hutan atau puncak gunung yang jauh dari fasilitas kesehatan.
Untuk menghindari risiko buruk dari paparan udara dingin dan angin kencang, berikut adalah beberapa langkah pencegahan efektif yang bisa kamu lakukan:
1. Gunakan Pakaian Berlapis (Layering System)
Jangan hanya menggunakan satu jaket tebal. Terapkan sistem tiga lapis pakaian, yaitu base layer (pakaian dalam yang menyerap keringat), insulating layer (seperti jaket fleece untuk menahan panas tubuh), dan outer layer (jaket waterproof dan windproof untuk melindungimu dari hujan dan angin).
2. Hindari Pakaian Berbahan Katun
Bahan katun cenderung menyerap dan menahan air atau keringat dalam waktu lama. Pakaian yang basah akan mempercepat perpindahan panas dari tubuh ke udara luar secara drastis. Pilihlah bahan sintetis seperti polyester atau nilon yang cepat kering.
3. Tetap Terhidrasi dan Cukup Nutrisi
Proses menjaga kehangatan tubuh membutuhkan kalori yang besar. Pastikan kamu selalu mengonsumsi makanan tinggi kalori secara berkala dan meminum air hangat agar metabolisme tubuh tetap berjalan dengan baik untuk memproduksi panas.
4. Segera Ganti Baju yang Basah
Jangan pernah menunda untuk mengganti pakaian, kaus kaki, atau sarung tangan yang basah akibat terkena hujan atau keringat. Segera cari tempat berlindung dan ganti dengan pakaian yang kering.
5. Gunakan Matras dan Sleeping Bag saat Istirahat
Suhu dingin di gunung tidak hanya bersumber dari udara, tetapi juga dari permukaan tanah yang kamu pijak atau tempati untuk tidur. Selalu gunakan pembatas berupa matras tebal dan kantung tidur yang memadai saat berkemah.
Rekomendasi Perlengkapan Hiking Terbaik dari AZKO
Untuk memastikan petualangan mendakimu tetap aman, nyaman, dan terhindar dari bahaya suhu dingin, pemilihan peralatan hiking dengan kualitas proteksi yang tinggi adalah hal yang mutlak.
Berikut adalah beberapa rekomendasi produk pilihan terbaik AZKO yang bisa kamu gunakan:
1. Picas Texas Botol Vacuum Flask Stainless Steel

Sumber: ruparupa
Menjaga cairan tubuh tetap hangat selama pendakian adalah hal krusial untuk mencegah penurunan suhu inti tubuh. Texas Botol Vacuum Flask Stainless Steel dari Picas ini hadir sebagai solusi praktis karena dirancang menggunakan teknologi dinding ganda berbahan stainless steel berkualitas tinggi yang sudah bebas BPA.
Kemampuannya dalam menjaga suhu tidak perlu diragukan lagi, karena dapat menahan panas hingga 8 jam dan menjaga minuman dingin tetap segar hingga 16 jam. Desainnya sangat ergonomis dengan bukaan penutup yang lebar untuk memudahkan pengisian air di sumber alam, serta dilengkapi pegangan yang nyaman pada bagian tutupnya agar mudah dibawa.
Memiliki kapasitas sebesar 650 ml, botol ini juga dilengkapi alas anti-slip yang bisa dilepas-pasang agar posisinya tetap stabil saat diletakkan di area tanah yang tidak rata.
2. Otto Klasse Jas Hujan PVC dengan Reflector

Sumber: ruparupa
Hujan adalah salah satu pemicu utama pakaian basah yang memicu kondisi darurat di alam bebas. Setelan Jas Hujan PVC dengan Reflector dari Otto Klasse ini diproduksi menggunakan material PVC bermutu tinggi yang sepenuhnya tahan air, kuat, sekaligus nyaman saat dipakai bergerak aktif menelusuri jalur pendakian.
Set perlindungan ini terdiri atas baju lengan panjang dengan penutup ritsleting dan kancing ganda, celana panjang yang menutup rapat, serta pelindung kepala yang fungsional. Untuk menunjang keselamatan ekstra saat kabut tebal atau malam hari, produk ini dilengkapi dengan komponen reflektor cahaya yang sangat membantu agar posisimu mudah terlihat oleh rekan setim.
Hadir dengan ukuran XXL, jas hujan ini sangat mudah dilipat kembali dan sudah dilengkapi tas penyimpanan khusus agar praktis dimasukkan ke dalam tas carrier.
3. Soleil 350 Sleeping Bag Mummy

Sumber: ruparupa
Saat malam tiba dan suhu gunung merosot tajam, kantung tidur dengan insulasi mumpuni adalah penyelamat hidupmu. Sleeping Bag Mmmy dari Soleil ini dirancang secara khusus menyelimuti seluruh area tubuh, mulai dari kaki hingga bagian kepala secara efisien demi memerangkap panas tubuh secara maksimal.
Menggunakan material luar poliester ripstop 230T yang tahan angin dan lapisan dalam poliester pongee 190T yang lembut, kantung tidur ini memiliki insulasi hollow fiber setebal 350 gram per meter persegi.
Kekuatan insulasinya mampu memberikan kenyamanan optimal dan menjaga tubuhmu tetap hangat bahkan dalam kondisi cuaca ekstrem dengan suhu rendah berkisar hingga 2 derajat Celsius. Sistem ritsletingnya didesain anti-tersangkut agar mudah dibuka-tutup, serta dilengkapi dengan tas kompresi pintar yang mampu memadatkan ukurannya menjadi sangat ringkas ketika hendak dipacking ke dalam tas.
4. Soleil Matras Camping Lipat Ixpe

Sumber: ruparupa
Tidur langsung di atas permukaan tanah gunung tanpa alas yang memadai akan menyedot panas tubuhmu dengan sangat cepat melalui proses konduksi. Matras Camping Lipat Ixpe dari Soleil ini memanfaatkan kombinasi busa IXPE berkualitas tinggi dengan lapisan aluminium foil untuk memblokir hawa dingin dari tanah sekaligus menjaga kehangatan tubuhmu tetap stabil sepanjang malam.
Tingkat ketegasan busanya berada di level medium firm, memberikan bantalan empuk yang nyaman untuk melepas lelah setelah seharian berjalan jauh. Memiliki ketebalan terbuka sekitar 1,8 cm dengan panjang mencapai 185 cm, matras ini sangat ideal untuk mengakomodasi postur tubuh orang dewasa.
Keunggulan utamanya terletak pada desain lipatnya yang sangat praktis, ringan, serta ringkas saat dilipat sehingga tidak merepotkan ketika diikat di bagian luar tas carrier kamu.
BACA JUGA: 5 Perbedaan Hiking dan Trekking yang Sering Dikira Sama
Say No to Hipotermia, Perlengkapan Hiking Terbaik dari AZKO Hangatkan Tubuhmu Sepenuhnya!
Kesimpulannya, memahami apa itu hipotermia, mengenali gejala hipotermia, serta mengantisipasi kondisi buruk saat berada di gunung adalah pengetahuan wajib yang tidak boleh dilewatkan oleh setiap pendaki.
Dengan persiapan fisik yang matang, pengetahuan yang cukup, serta dukungan peralatan hiking yang berkualitas dari AZKO, momen petualanganmu di alam bebas akan berjalan dengan aman, hangat, dan menyenangkan.
Yuk, persiapkan semua kebutuhan hiking kamu sekarang juga dengan mengunjungi toko AZKO terdekat atau kamu juga bisa membelinya secara online dengan mudah melalui aplikasi ruparupa!






